Jasa Membuat Blog

Ormas Islam Protes Sabda Raja Yogyakarta

Raja Yogyakarta
Sultan Jogja menghapus gelar Khalifatullah  dan Mengangkat Putri Mahkota.

DUA organisasi kemasayarakat (ormas) Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU dan Muhammadiyah, memrotes Sabda Raja Yogyakarya Sultan Hamengku Buwono X yang menghapus gelar pemimpin agama "Khalifatullah" di lingkungan istana Jogja.

NU dan Muhammadiyah menyayangkan perubahan gelar “Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sedasa Ing Ngayogyakarta Hadiningrat”.

"Penghapusan gelar pemimpin agama itu praktis mengubah pakem Keraton Yogya yang selama ini beridentitas sebagai Kerajaan Mataram Islam,” ujar Ketua Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Heni Astiyanto, seperti dikutip Tempo.

Menurutnya, Sultan Yogya tak perlu menghapus gelar khalifatullah itu jika tujuannya untuk memodernisasi nilai dalam keraton.

Ditambahkannya, jabatan khalifatullah secara harafiah tak merujuk bahwa Sultan hanya sebagai pemuka untuk umat Islam semata. “Khalifatullah memiliki arti pemimpin yang mengatur bumi, bukan pemimpin agama tertentu saja,” ujarnya.

Bahkan, ia juga menambahkan, jika gelar itu dihapus berarti ada raja baru. "Tapi dari kerajaan mana? Wong keraton Yogya itu Mataram Islam,” tegasnya.

Hal lain yang diprotes adalah Keputusan Sultan Yogya yang mengangkat putri sulung GKR Pembayun menjadi putri mahkota. Heni menilai keputusan itu menabrak adat keraton. “Kami tak setuju (raja perempuan), bukan bicara soal kesetaraan namun pakem adatnya,” ujarnya.

Hal senada dikemukakan Wakil Ketua Tanfidziyah NU Yogyakarta, Jadul Maulana. Ia  juga menyatakan khawatir penghilangan gelar khalifatullah membuat Keraton Yogya mengalami disorientasi.

Menurut dia, khalifatullah menjadi satu bagian utuh ajaran Al-Quran. “Bukan untuk tujuan diskriminatif, tapi membimbing pemimpin agar bisa menjalankan perilaku sesuai ajaran Allah. Ini sifatnya universal,” ujarnya.

Jadul menilai, jika Sultan HB X menghilangkan gelar khalifatullah, itu sama saja dengan bunuh diri kebudayaan. Dia menuturkan kekhalifahan di keraton Yogya seumur dengan kehalifahan yang pernah hidup di dunia berabada-abad silam, seperti di India dengan Kekhalifahan Mughal dan Shalafiyah di Iran yang kini sudah punah.

Adik Sultan Akan Gugat
Sejumlah kerabat Keraton juga menyatakan tidak sepakat dengan keputusan Raja Keraton Yogyakarta yang mengubah "Buwono" dalam namanya menjadi "Bawono" dan menghapus kata "Khalifatullah" dalam gelarnya.

Adik Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Bendara Pangeran Harya Prabukusumo, mengatakan akan meminta bantuan pengacara kondang Yusril Ihza Mahendra jika persoalan ini berlanjut ke ranah hukum.

"Kalau diselesaikan secara kekeluargaan tidak bisa, ya ke ranah hukum," kata Prabukusumo.

Meski demikian, Prabukusumo mengatakan belum bisa memberikan keterangan pasti tentang sikap bulat kerabat yang tak sepakat dengan sikap Sultan itu.

Sultan Yogyakarya akan mengirimkan surat untuk menjelaskan perubahan namanya ke Kementerian Dalam Negeri. Menurut Prabukusumo, persetujuan Kementerian terhadap perubahan nama gelar itu dinilai akan memicu protes dari keluarga besar Keraton Yogyakarta.*

You're reading Ormas Islam Protes Sabda Raja Yogyakarta. Please share...!

Previous
« Prev Post

0 Response to "Ormas Islam Protes Sabda Raja Yogyakarta"

Back to Top