Jasa Membuat Blog

Umat Islam Indonesia Tunjukkan Eksistensi karena Merasa Terganggu dan Terancam

Umat Islam Indonesia Tunjukkan Eksistensi karena Merasa Terganggu dan Terancam
DALAM rentang waktu dua bulan terakhir, umat Islam Indonesia menunjukkan eksistensi dan kekuatanya dengan menggelar Aksi Bela Islam dan Doa Bersama. 

Yang terbesar Jumat 2 Desember 2016 di Jakarta dan di berbagai kota lain --dikenal dengan julukan Aksi 212.

Aksi terbaru dilakukan umat Islam pada Senin (12/12/2016) dengan Gerakan Salat Subuh Berjamaah secara nasional.

Aksi ini dilakukan umat Islam guna menunjukkan ketidaksenangan terhadap penistaan agama oleh Gubernur Petahana DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang mulai disidangkan Selasa (13/12/2016).

Menurut pengamat politik Islam, Masdar Masudi, ada kecenderungan di kalangan umat Islam untuk lebih menunjukkan eksistensi dengan berbagai ibadah. 

"Sesungguhnya ibadah itu sesuatu yang sangat pribadi, akan tetapi diorganisir untuk mengatakan sesuatu yang sifatnya keluar," jelas Masdar yang juga Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) seperti dikutip BBC.

Dijelaskannya, umat Islam belakangan cenderung untuk lebih menunjukkan eksistensi dengan berbagai acara ibadah. Ia mengaku masih menelah mengapa ekistensi itu perlu ditegaskan.

"Apakah karena ada perasaan terganggu atau bagaimana. Tapi menurut saya, itu kurang pada tempatnya karena Islam di Indonesia mayoritas, mayoritas yang sangat besar, mungkin lebih dari 80%.

"Artinya, umat Islam tidak perlu merasa inferior (rendah diri) dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara karena umat Islam ini secara kuantitas mayoritas mutlak," jelas Masdar.

Hal senada dikemukakan pengamat Islam dari UIN Sunan Kalijaga, Profesor Noorhaidi Hasan. Ia menilai umat Islam Indonesia menunjukkan eksistensi karena merasa terancam

"Banyak Muslim di Indonesia mengidap apa yang kami sebut sebagai merasa terancam. Perasaan terancam juga berhubungan dengan kepercayaan mereka yang cukup tinggi terhadap teori konspirasi," katanya.

Dalam teori konspirasi yang berkembang, lanjut Noorhadi, umat Islam meyakini ada kekuatan-kekuatan besar yang mengancam Islam di Indonesia.

Teori konspirasi itu leluasa dimainkan oleh aktor-aktor politik tertentu untuk meningkatkan rasa keterancaman umat.

"Kalau rasa keterancaman meningkat seperti kemarin dipicu dengan kasus Ahok, karena Ahok Kristen, Cina. Nah, ini dianggap bisa mengancam arah masa depan Indonesia, lalu intoleransi kemudian kembali meningkat dan orang bisa dimobilisasi untuk itu," jelasnya.

KASUS Ahok memang berdimensi sangat luas. Kasus penistaan agama oleh Ahok hanyalah pemicu (trigger) sekaligus momentum umat Islam menunjukkan eksistensi sekaligus kekuatannya -- setidaknya secara kuantitas-- dan siap bereaksi jika gangguan dan ancaman itu terus terjadi.

Kalangan umat Islam Indonesia percaya ada kekuatan besar di belakang Ahok. Bahkan, orang-orang yang tidak menyukai Islam makin terbuka dan kian jelas, dengan banyaknya komentar antipati di media sosial terhadap aksi-aksi umat Islam belakangan ini.

Salah satunya adalah produser MetroTV Janes C Simangunsong yang kian menunjukkan stasium televisi milik James Ryadi itu memang punya agenda anti-Islam.*

You're reading Umat Islam Indonesia Tunjukkan Eksistensi karena Merasa Terganggu dan Terancam. Please share...!

Previous
« Prev Post

0 Response to "Umat Islam Indonesia Tunjukkan Eksistensi karena Merasa Terganggu dan Terancam"

Back to Top