Jasa Membuat Blog

Viral, Gadjah Mada Seorang Muslim Bernama Gaj Ahmada

Viral, Gadjah Mada Seorang Muslim Bernama Gaj Ahmada
Mahapatih Majapahit, Gajah Mada, disebut-sebut memiliki nama asli Gaj Ahmada dan beragama Islam. 

Namun, Peneliti Pusat Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, menegaskan Gadjah Mada bukan seorang muslim dan Majapahit bukan sebuah kerajaan Islam.

Frasa Gaj Ahmada sempat viral di media sosial Twitter. Informasi yang viral itu menyebutkan, Majapahit merupakan sebuah kerajaan Islam.

Setidaknya ada 6 poin yang menjadi dasar informasi itu, yakni penemuan koin Majapahit bertuliskan syahadat, nisan Sunan Maulana Malik Ibrahim yang menyebutkan bahwa dirinya merupakan Qadhi (hakim agama Islam) Kerajaan Majapahit, lambang Majapahit berupa matahari dengan tulisan Arab, Raden Wijaya adalah seorang muslim, nama Gajah Mada disebut sebagai Gaj Ahmada atau Syaikh Mada, dan dikaitkan pula dengan eksodus besar-besaran warga muslim Baghdad ke Nusantara setelah diserang tentara Mongol pada tahun 1293.

Poin-poin tersebut ini tentu berbeda dengan sejarah umum yang menyebut Majapahit adalah kerajaan Hindu, begitu juga dengan agama yang dianut Gajah Mada.

Informasi yang viral itu menyebut bahwa penelitian soal Gaj Ahmada dilakukan Lembaga Hikmah dan Kajian Publik Pengurus Daerah (LHKP PD) Muhammadiyah Kota Yogyakarta. 

Tulisan itu tak menyebutkan sumber. Meski demikian, penelusuran detikcom terkait informasi viral itu mengarah ke buku 'Majapahit Kerajaan Islam'. Buku tersebut ditulis oleh Herman Sinung Janutama.

Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta, Ashad Kusuma Djaya, memberikan konfirmasi.

"Penelitian dilakukan oleh Mas Herman dan dibuat kajiannya oleh LHKP, dengan mendatangkan beberapa pembanding. Hasil kajian itu ditulis menjadi buku," ujar Ashad kepada detikcom, Sabtu (17/6/2017).

Ashad mengatakan, Herman bicara banyak soal viral Gaj Ahmada tersebut di wall Facebooknya. Penjelasan Herman soal kekeliruan Gaj Ahmada ada di komentar-komentar pada status Ashad.

Dalam komentarnya di Facebook, Herman menegaskan bahwa informasi viral itu amat berbeda dengan buku yang dia tulis.

"Sepanjang bacaan kami status viral tersebut beberapa hal tidak terdapat pada buku kami. Misalnya penjelasan tentang GAJ-AHMADA. Dalam buku tertulis GAJAH-AHMADA. Leburan suku kata AH dalam bentukan kata GAJAHMADA adalah hukum GARBA dalam gabungan 2 kata atau lebih dalam kawi atau sansekerta. Dalam kasanah Jawa, tidak mungkin diizinkan kata GAJ, yang mematikan konsonan JA. Sebagaimana suku kata WA juga tidak diizinkan dimatikan, hanya W saja.
Tapi dalam viral tidak begitu membabarkannya....," tulis Herman.

Ia menjelaskan pula mengenai lambang Surya Majapahit di makam Pusponegoro. Menurutnya, lambang yang disematkan di sana terdapat di makam keturunan Raja-raja Majapahit.

"Kami juga diminta menjelaskan oleh salah satu pusat studi di UGM. Saya matur bahwa persoalan serius yang dibabar dalam buku Kesultanan Majapahit terletak pada kritik metodologi dalam menelitinya. Bagaimana obyek material menggunakan metode, sehingga mendapatkan data.... Tapi hal begini menurut saya tidak mungkin diterangkan dalam diskusi viral demikian," ungkap dia.
Peneliti Pusat Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, menegaskan Gadjah Mada bukan seorang muslim dan Majapahit bukan sebuah kerajaan Islam.
"Tidak benar itu, nama Gaj Ahmada tidak ada dalam catatan manapun," ujar Bambang kepada kumparan (kumparan.com).

"Agama Islam di Majapahit itu ada, pasti ada, karena ada nisan-nisan di komplek makam Troloyo yang asalnya dari zaman Majapahit. Tapi Islam itu bukan agama negara/kerajaan. Kalau itu agama negara itu diurus, ada pejabatnya. Jadi dalam struktur Kerajaan Majapahit ada namanya Dharma Dyaksa kalau untuk agama Budha Dharma Dyaksa Kasogatan, kalau agama Hindu Dharma Dyaksa Kasiwaan. Cuma 2 itu," ungkap Bambang.

Soal lambang matahari Majapahit yang disebut bertuliskan bahasa Arab ia menyebut bahwa itu merupakan simbol delapan penjuru mata angin.

"Itu maksudnya Sinar Majapahit, itu bukan tulisan Arab. Itu seperti simbol-simbol kok bukan tulisan, mungkin simbol arah 8 penjuru angin itukan bintangnya segi delapan, melambangkan utara, timur laut, timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut," ujar Bambang.

Bambang juga mengatakan bahwa koin bertuliskan syahadat tak pernah beredar di Kerajaan Majapahit. Tulisan yang ada di koin zaman Majapahit adalah tulisan aksara Jawa.

"Koin itu tulisan jawa di Zaman majapahit bukan tulisan Arab. Di kerajaan Majapahit tidak beredar koin Arab, yang ada koin atau kepeng Tiongkok dan Majapahit. Kerajaan Islam sendiri tidak pernah pakai syahadat, pakainya nama sultan," tutupnya.

Sebagai informasi di masa Majapahit pedagang muslim juga sudah masuk ke nusantara. Dan tentu juga ke Majapahit. Dari mereka tersebar Islam, dibuktikan dengan adanya makam Islam. Juga kemungkinan koin yang dibawa para pedagang itu sampai ke wilayah Majapahit.

Namun seperti disampaikan Bambang, berbagai literatur tertulis dan temuan sejarah secara ilmiah tidak ada yang menyebutkan Gadjah Mada seorang muslim dan Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Islam.*

You're reading Viral, Gadjah Mada Seorang Muslim Bernama Gaj Ahmada. Please share...!

Previous
« Prev Post

0 Response to "Viral, Gadjah Mada Seorang Muslim Bernama Gaj Ahmada"

Back to Top